Selasa, 25 Maret 2014

YESUS BUKAN SATU-SATUNYA YANG TIDAK BERDOSA 2

Tidak ada penghinaan yang lebih tinggi lagi yang dapat ditemukan bagi kemanusiaan selain mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan sudah berdosa. Dengan dasar inilah doktrin Kristen mengajarkan bahwa seseorang anak yang mati sebelum dibaptis harus dibakar di neraka terlebih dulu karena kesalahan itu hanya dapat disifatkan kepada Tuhan Sendiri karena dialah yang menciptakannya dalam keadaan berdosa. Dan jika manusia itu dilahirkan berdosa, dan karena dosa itu sudah melekat dalam diri manusia, maka sangat mustahil untuk mengajarkan kebajikan kepadanya dan mustahil pula untuk menyingkiri setiap kejahatan, karena tak mungkin mengajarkan sesuatu kepada yang sudah menjadi fitrahnya. Doktrin semacam ini tak bisa dibayangkan oleh orang yang percaya bahwa anakanak itu belum mengerti apa-apa:

“Biarkan anak-anak itu dan jangan melarang mereka datang kepadaku, karena orangorang yang seperti inilah penghuni kerajaan di sorga” (Matius 19:14).

Ternyata Kristus sendiri mengakui kesucian anak-anak. Namun Nabi Suci Muhammad saw bersabda dengan kata-kata yang lebih jelas bahwa “anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya” yaitu: “tak berdosa”, demikianlah seorang Muslim yang dilahirkan, dan “orang tuanyalah yang membuat dia Yahudi atau Nasrani atau Majusi”. Dan Qur’an Suci mengatakan dengan jelas:

“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama, fitrah buatan Allah yang Dia ciptakan manusia atas fitrahnya …. Itulah agama yang benar” (30:30).

Jadi dalam Islam fitrah manusia dibangkitkan ke tingkat yang lebih mulia dengan menyatakan kesuciannya, sementara di dalam agama Kristen dihinakan ke tingkat yang serendah-rendahnya dengan menyatakan dosa yang telah melekat, doktrin ini sangat berlawanan dengan fitrahnya yang tak mungkin bisa beranjak. Pandangan rendah terhadap fitrah manusia yang dibentuk oleh pondasi ajaran agama Kristen itu sudah tentu, cepat atau lambat, pasti ditinggalkan oleh dunia beradab.

Islam mengajarkan tidak saja memulainya dari dasar fitrah manusia yang tak berdosa namun juga berpendirian dengan kokohnya bahwa setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci murni, bahkan lebih maju lagi dengan memberikan tuntunan serta aturan yang tetap agar kesucian itu tetap terpelihara. Pertama-tama Islam mengajarkan shalat kepadanya, dimana shalat ini diulang lima kali dalam seharinya oleh kaum Muslim, ia diajarkan untuk berusaha jangan sampai terkena dosa, bahkan lebih dalam lagi, demi mencapai keluhuran rohani, maka para Nabi dan orang-orang tulus dibangkitkan yang tujuannya adalah demi kemaslahatan umat manusia. Difirmankan:

“Pimpinlah kami ke jalan yang benar, yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” (Quran Suci, 1:5-6).

Perbedaan utama antara do’a kaum Muslim dan do’a Bapak umat Kristen yaitu, sementara do’anya Bapak adalah untuk mengampuni orang-orang yang sudah berdosa, sedangkan do’anya kaum Muslim diajarkan untuk menghindari agar dosa jangan sampai hinggap pada dirinya, yang bukan saja perbuatan jahat harus dihindari namun perbuatan baik pun harus dilakukan. Yang pertama meminta untuk diampuni dosa, sedangkan yang kedua agar jangan sampai terkena dosa dan demi berbuat kebaikan. Jadi, jika, di satu pihak, Islam mengangkat derajat manusia, di pihak lain mencita-citakan keluhuran setinggi mungkin.

Terhadap dua perbedaan agama yang fundamental ini Islam mengajarkan bahwa para Nabiyullah tidak berdosa, sedangkan agama Kristen menanamkan faham yang bertentangan, yaitu semua orang tulus dimana umat manusia punya hutang budi kepada mereka dianggap berdosa, dan Yesus sendiri, makhluk yang dianggap berbeda dari manusia lainnya, ia pun tidak berdosa. Kini, pertama tama harus disadari bahwa bila sekedar tak berdosa, ini bukanlah jaminan bahwa itu bukti suatu keagungan. Tak berdosa itu hanya berarti menghindari perbuatan jahat sebagai langkah awal dalam perkembangan rohani manusia untuk berbuat baik, dan di dalam melakukan perbuatan baik itulah letaknya kemuliaan. Kami tak mengatakan kemuliaan manusia itu sesederhana itu yakni sekedar tak pernah berbuat lalim terhadap orang lain kemudian memberi gelar dan kedudukan kepada orang itu lebih istimewa dari orang biasa. Masalah tak berdosa ini, dimana banyak sekali ditekankan oleh agama Kristen, adalah orang yang sangat sedikit sekali maslahatnya, sementara hakikat yang diperbuat oleh para Nabi adalah perbuatan baik demi kemaslahatan umat. Malah mungkin, ratusan ribu umat manusia yang pernah hidup tanpa melakukan kejahatan terhadap orang lain pun, hanya digolongkan orang-orang yang tak berbuat kerusakan, atau mereka memilih melakukan kehidupan pertapa bagaikan di biara, atau hidup di dunia yang memungkinkan mereka menghindari segala godaan. Karenanya kalau semata-mata tak berdosa, seseorang itu kadang-kadang boleh menerima kehormatan, yang pada kesempatan lain sikapnya mungkin mengagumkan; tapi tak ada perbuatan yang patut disebut mulia dan bermanfaat bagi kemanusiaan kalau hanya menghindari perbuatan yang bisa merugikan semata. Dan kemaslahatan bagi kemanusiaan itu, seseorang harus benar-benar berbuat sejumlah kebaikan bagi orang lain yang dalam hal ini Nabi Besar dikatakan sebagai “rahmatan lil’alamin - kasih sayang bagi segenap bangsa”. Beliaulah yang telah melenyapkan penyembahan berhala, membasmi minum-minuman keras yang sudah merajalela, menolong anak-anak yatim, kaum papa maupun kaum lemah, menegakkan prinsip persaudaraan umat manusia, membuang perbedaan ras antara bangsa yang satu dengan bangsa lainnya, meniupkan ruh segar persaudaraan umat di antara segenap bangsa, meniupkan obor ilmu pengetahuan kepada manusia bodoh, dan beliaulah yang menjadi sumber karunia kemanusiaan di dalam segala hal.

Karenanya, kami akan mengemukakan masalah yang diletakkan Kristen. Apakah Yesus itu tak berdosa? Apakah semua Nabiyullah berdosa? Apa yang dikatakan Bebel terhadap dua masalah ini? Dan apa yang dikatakan oleh Qur’an Suci? 

Pertama, mari kita ambil apa yang dikatakan Injil dan masalah tak berdosanya Yesus Kristus. Pada permulaan masa kependetaannya beliau pernah mengalami digoda setan. Peristiwa tersebut dikatakan perbuatannya tak bisa dilihat, tapi sebagaimana para komentator Injil mengatakan, bahwa “pengalaman” Yesus ditulis sebagai “bahasa simbolik” saja. Dalam bahasa yang jelas ini artinya adalah godaan yang dilakukan Setan terhadap Yesus, dan ini artinya tidak konsisten dengan teori ketidak berdosaannya Yesus. Godaan Setan sebenarnya datang sebagai gagasan jahat pada hati manusia, dan meskipun gagasan tersebut bisa saja akhirnya ditolak, meskipun penerimaan awalnya oleh hati tak sesuai dengan kesucian hati nurani. Dalam hal Yesus, tiga macam kejahatan itu dikatakan benarbenar terjadi pada beliau. Pertama, godaan Setan dilakukan ketika Yesus sangat lapar setelah lama berpuasa: “Perintahlah batu-batu ini agar menjadi roti” (Matius 4:3). Yang kedua dilakukan dengan naik ke atas puncak menara kuil, atau di suatu tempat yang tinggi seperti djelaskan oleh Injil berikut ini:

“Terjunlah engkau sendiri ke bawah: sebab telah tertulis, Dia akan menyuruh para malaikat untuk melindungimu; tangan mereka akan menyambut engkau, hingga setiap waktu kakimu tidak akan menyentuh debu” (Matius 4:3).

Yang ketiga dengan memanjat ke gunung yang tinggi yang dari sana “segala kerajaan dunia”
dan kebesarannya diperlihatkan kepadanya:

“Segala sesuatu itu akan aku berikan kepadamu, jika engkau mau bersujud dan menyembahku” (Matius 4:9).

Yang terakhir ini tak ragu lagi adalah puncak godaan bagi Yesus meskipun Yesus menolaknya dengan kata-kata yang jitu: “Sembahlah Tuhan, Tuhanmu, dan hanya kepadanya kamu harus mengabdi” (Matius 4:10). Kata-kata seperti ini tak mungkin dikatakan oleh para pengikut Yesus yang kenyataannya mereka cuma menyembah Mamon dan menyembah kebesaran duniawi untuk mencapai kerajaan seperti itu. Di sini di setiap perbandingan suatu kejadian yang diputuskan secara tuntas bahwa Yesus tidak memiliki kesucian mutlak menurut Injil, dan Setan dapat menggodanya seperti juga menggoda orang lainnya. Beliau sungguh memiliki kekuatan rohani yang kuasa mengatasi godaan, tetapi jika beliau memiliki lebih dari itu, niscaya beliau akan terbebas dari godaan Setan tadi. Dari sini dapat diketahui dengan jalan yang berbeda bahwa Qur’an Suci maupun Hadits yang keduanya diucapkan oleh Nabi Suci bahwa seseorang yang memiliki derajat rohani yang tinggi tidak bisa dipengaruhi godaan setan, dan dalam hal ini Hadits Sahih meriwayatkan bahwa menurut Nabi Suci setan malahan akan tunduk kepadanya, sabda beliau demikian:
 
“Karena Tuhan telah menolongku dalam melawannya maka dia tunduk kepadaku”.

Apa yang lebih penting dari ini ialah bahwa tiga Injil berisi bantahan yang jelas tentang ketidak berdosaannya Yesus yang diucapkan oleh beliau sendiri. Saya kutip katakata dari Markus:

“Waktu Yesus melanjutkan perjalanannya, datanglah seseorang berlari-lari lalu berlutut di hadapannya, dan bertanya kepadanya: Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat supaya bisa mewarisi hidup abadi? Dan Yesus berkata kepadanya, Mengapa engkau katakan aku baik? Tidak ada yang baik kecuali satu, yaitu Tuhan” (Markus 10:17-18).

Nah di sini Yesus disapa sebagai guru yang baik dan jika tidak keberatan, tak seorang pun dapat menggambarkan dari situ suatu kesimpulan bahwa beliau mengaku tidak berdosa. Tapi segera beliau menolak orang tersebut untuk mengatakan baik, karena yang baik itu hanya Satu, yaitu Tuhan. Mengapa beliau merasa keberatan menggunakan kata-kata baik jika beliau percaya bahwa dirinya tak berdosa? Tak seorang pun bisa berkomentar, bahkan seorang komentator modern pun seperti Rev. J.R.Dummelow membuat pernyataan yang cukup berani dengan mengatakan bahwa “ini bukan berarti beliau tidak baik, tapi karena beberapa alasan atau lainnya pada waktu itu beliau menolak gelar itu”. Apa yang menjadi alasan bahwa kata baik itu masih tetap ditolak dan beliau tak mau disebut baik dan bahkan memberi alasan mengapa beliau tak mau disebut baik, tak seorang pun pernah memberi tahu dan tak akan memberi tahu, tapi lebih baik dua penjelasan tadi diabaikan saja.


Penjelasan pertama mengenai gelar baik “dalam pengertian yang telah dikemukakan” tak ada bandingannya terhadap ganjaran dan pengakuan beliau. Orang tersebut memanggilnya baik “dalam pengertian dia harus menyebut setiap orang mulia Rabbi yang baik”. Sugesti yang amat berani! Dia adalah orang yang lebih baik dari sekedar kata-kata itu dan karenanya beliau menolak disebut baik yang seperti itu. Tapi apakah dalil ini menguatkan argumen yang diberikan Yesus Kristus sendiri? Yesus tidak memberikan argumen apa-apa, keterangan seperti itu sudah pasti rekayasa belaka, tapi bila Yesus sendiri memberikan argumen itu betapa tak berartinya argumen dan rekayasa melawannya. Argumen Yesus tentang baik itu tidak bisa diterapkan kepada siapa pun kecuali pada Tuhan, dan karena inilah tidak bisa diterapkan sekalipun kepada beliau sendiri, dengan kata lain, ganjaran dan pengakuan beliau adalah tak ada taranya dengan kata-kata baik tersebut. Tapi kita bertanya untuk menerima yang bertentangan dengan itu.

Penjelasan yang lainnya sama saja, menggelikan: “Sifat kemanusiaan Kristus, meskipun tanpa dosa selama menempuh hidupnya di bumi, tidak baik dalam pengertian yang sesungguhnya”. Penjelasan ini tidak ragu lagi dapat diterima jika Yesus Kristus dipandang sebagai manusia biasa; pengertian itu akan menjadi cocok dengan kata-kata, tak ada yang baik kecuali satu yaitu Tuhan. Tapi bila Yesus itu sendiri sebagai Tuhan, pribadi Ilahi, mengapa dia menolak untuk dikatakan baik dalam arti yang sesungguhnya, bahkan ketika itu pula memberikan alasan bahwa hanya Tuhanlah yang baik?

Sebenarnya, kata-kata yang dikutip di atas bertambah jelas dan memberikan kesaksian tuntas terhadap doktrin tak berdosanya Yesus yakni suatu usaha telah dilakukan sejak awal untuk merobah-robah Injil dan untuk menggantikan kalimat-kalimatnya, tetapi perubahan itu dilakukan oleh salah seorang dari mereka. Jadi di dalam Matius, sementara Authoris Version1 sama seperti Injil-Injil lainnya, Revised Version2 menunjukkan perobahan dan mencantumkan jawaban Yesus seperti ini: “Mengapa engkau menanyakan kepadaku tentang apa yang baik? Yang baik itu Satu”. Rupanya ada sedikit kebijaksanaan dalam usaha merobah, karena jawaban itu sangatlah canggung di mulut Yesus. Orang yang bertanya kepada beliau tentang kebaikan itu harus hidup abadi, dan dia katakan: “Mengapa engkau bertanya kepadaku tentang yang baik”. Jawaban ini artinya ialah bahwa dia harus bertanya kepada orang lain bukan kepada Yesus tentang perkara baik itu, atau dia harus menanyakan kepada Yesus bukan masalah kebaikan, tapi mengenai kejahatan. Makanya perubahan itu menjadi canggung, mungkin tujuannya demi menghindari kesimpulan yang jelas bahwa Yesus tidak berdosa, inilah kenyataan yang diakui.

Rev. J.R.Dummelow mengatakan:
 
“Versi yang benar adalah Markus dan Lukas. Penulis Matius (atau mungkin penyalin awal, karena ada alasan yang harus dipertimbangkan bahwa naskah Matius yang asli sesuai dengan Markus dan Lukas) merubah naskah itu sedikit, demi mencegah pembaca agar tidak menduga Yesus tidak baik”.

Keinginan untuk menjauhkan kata-kata yang menjadi rintangan di tengah jalan dalam menegakkan ketidak berdosaan Yesus mungkin bisa dipandang oleh seseorang sebagai seorang yang saleh, namun perbuatan merobah Tulisan Suci tersebut tidak ragu lagi adalah salah satu perbuatan kaum Kristen yang dicela Qur’an Suci.

Jika kitab suci tersebut tidak mengizinkan kita untuk menganggap Yesus Kristus benar-benar tak berdosa, kita akan lihat apakah mereka mengizinkan kita untuk menyebut para Nabiyullah yang lain berdosa. Keterangan dari Perjanjian Lama berikut ini harus kita pertimbangkan dulu. “Nuh sebagai manusia biasa dan sempurna di kalangan generasinya, dan Nuh berjalan bersama Tuhan” (Kejadian 6:9). Kepada Ibrahim Tuhan berkata: “Berjalanlah di hadapanku, dan engkau akan sempurna” (Kejadian 17:1). Kepada Musa dia berkata: “Engkau akan sempurna dengan Rabb Tuhanmu” (Ulangan 18:13) Bisakah ini diduga bahwa semua Nabi itu berdosa meskipun mereka itu keadaannya sempurna dan mereka berjalan bersama Tuhan? Yesus sendiri tidak meminta kepada kita untuk jadi sempurna “Bapakmu yang ada di sorga itulah yang sempurna” (Matius 5:48). Dan apakah kesempurnaan para hamba Tuhan yang tulus selain artinya mereka itu benar-benar tulus hatinya, tak pernah salah dalam hidupnya, tak berdosa dan tak pernah berbuat kerugian, dan meniru Tuhan dalam berbuat baik kepada orang lain? Sebenarnya, sempurna itu lebih berarti daripada sekedar tak berdosa. Manusia yang sempurna di hadapan Tuhan tidak hanya tidak berdosa saja tapi juga berbuat kebaikan utama. Dawud pun berbicara mengenai kesucian Tuhan:

“Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela yang berjalan di dalam hukum Tuhan. Berbahagialah orang yang mengikuti perintahnya, dan mencarinya dengan sepenuh hati. Mereka juga tidak melakukan kejahatan, mereka berjalan di jalannya” (Mazmur 119:1-3).
 
Lagi:
“Mulut orang yang tulus berbicara bijaksana, dan lidahnya berbicara arif. Hukum Tuhannya ada dalam hatinya; langkahnya tak akan meleset” (Mazmur 37:30-31).

Kalau Perjanjian Lama membicarakan tidak berdosanya para Nabi maupun orang-orang tulus dalam kata-kata yang begitu jelas, Injil pun memberikan bukti yang sama. Kesaksian yang menyatakan ketidak berdosaan Zakaria dan isterinya Elizabeth tertulis seperti berikut:

“Dan keduanya orang tulus di hadapan Tuhan, berjalan di atas semua perintah dan aturan Tuhan tidak tercela” (Lukas 1:6).

Jika doktrin ketidak berdosaan Yesus didasarkan atas ucapan Yohanes sendiri, “kamu yakin aku berdosa” , kata-kata yang jelas mengenai Zakaria dan Elizabeth bahwa mereka itu tidak tercela pasti akan memperkuat dasar ketidak berdosaan mereka. Karena Yesus hanya mengaku tak ada orang yang bisa menuduhnya berdosa, maka orang itu bisa berdosa di hadapan Tuhan meskipun tak ada orang lain bisa menuduhnya berdosa. Di pihak lain, orang yang dikatakan oleh Tuhan bahwa ia tidak tercela bisa jadi ia tidak berdosa, karena alasan inilah anak kecil yang lahir dari kedua orang tua tak berdosa itu dikatakan di dalam Injil “berisi atau dikuasai oleh Ruhul Kudus sekalipun datang dari rahim ibunya” (Lukas 1:15).Kini Yesus menerima Ruhul Kudus pada usia tigapuluh tahun ketika beliau dibaptis di tangan Yahya Pembaptis, tapi ternyata Baptis itu dipenuhi Ruhul Kudus sejak dari kandungan ibunya. Yang mana dari dua perkara besar ini yang dikatakan tidak berdosa?

Pertimbangan kitab suci Kristen menunjukkan secara tuntas bahwa sementara mereka menolak menyebut Yesus tak berdosa, mereka pun mengatakan bahwa para Nabi yang lain maupun orang-orang tulus itupun sempurna dan tak tercela. Dalam kadar tertentu, Kristen ini tidak mempunyai dasar samasekali untuk menjelaskan setiap derajat ketidak berdosaan Yesus Kristus yang tak bisa diterapkan kepada Nabi-nabi yang lain berdasarkan kitab suci mereka sendiri.

Kini kita menuju pada Qur’an Suci. Persoalan pertama yang akan kita jawab adalah: Apakah Qur’an Suci membuat perbedaan antara Yesus Kristus dengan para Nabiyullah lainnya mengenai ketidak berdosaan mereka? Sedikit pun tidak. Semua boleh dikatakan dalam membicarakan Yesus itu menggunakan kata-kata yang halus, ini semua karena agama Islam baik terhdap agama-agama lain, dan selalu membicarakan Nabi-nabi yang lain dengan penuh hormat, yang kebanyakan mereka dicemoohkan pada waktu kedatangannya. Qur’an membicarakan Yesus sebagai “Ruh dari-Nya”, itu bukan karena beliau itu bersifat Ilahi, jelas sekali di mana saja bila membicarakan beliau, beliau itu tidak lebih dari manusia biasa, tapi karena para musuhnya selalu mencomoohkan beliau dengan menganggap dilahirkan tidak syah. “Ruh dari Tuhan” dalam pengertian ini berarti beliau berjiwa suci, itu saja, yakni seorang yang dilahirkan dari keturunan yang perkawinannya syah. Tuhan adalah sumber utama kesucian, dan jiwa Yesus dikatakan datang dari-Nya, ini maknanya, sekali lagi, beliau berjiwa suci dan beliau tidak berjiwa Setan bukan seperti dituduhkan oleh kaum Yahudi karena beliau dilahirkan secara tidak syah.

Mengenai penggunaan kata Kalimatuhu, yakni Ucapan-Nya banyak sekali disalah artikan. Arti dari kata itu sederhana sekali karena beliau dilahirkan sesuai dengan ramalan, yakni sesuai dengan ramalan yang diwahyukan kepada Maryam, kutipan di bawah ini menjelaskan:

“Ketika malaikat berkata: Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada engkau dengan firman dari-Nya (tentang seorang) yang namanya Masih, ‘Isa anak Maryam” (3:44).

Terlihat bahwa menggunakan kedua kata yang ditunjukkan di atas itu tidak ada arti lain bagi kita kecuali menunjukkan kesimpulan bahwa Yesus itu tidak berdosa dalam arti beliau dilahirkan secara syah. Difirmankan mengenai Adam: “Setelah Aku sempurnakan, lalu aku tiupkan ruh-Ku” (15:29). Dan ruh yang ditiupkan kepada Adam juga ditiupkan kepada anakanaknya:

“Dan Ia mengawali terciptanya manusia dari tanah. Dan Ia membuat keturunannya dari sari air yang hina. Lalu Ia sempurnakan, kemudian Ia tiupkan ke dalamnya ruh-Nya dan membuat untukmu telinga dan mata dan hati” (32:7-9).

Dalam dua hal doktrin Kristen palsu yang mengajarkan bahwa kejahatan sudah tertanam dalam diri manusia tidak dibenarkan dalam penjelasan mengenai ruh Adam atau jiwa setiap manusia yang datang dari Tuhan. Ruh Adam sudah bersih secara alami dan begitu juga ruh setiap manusia, karena semuanya berproses dari sumber yang suci, yakni dari Tuhan sebagai sumber utama kesucian, dan kejahatan itu tidak dilahirkan di dalam ruh; dengan kata lain, di sana tidak ada Dosa Asal. Setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini, katakanlah sejak Adam hingga sekarang, dalam keadaan suci dari dosa. Hanya dengan melakukan perbuatan jahatlah hadiah atau karunia kesucian dari Tuhan itu bisa ternodai. Secara fitrah manusia itu suci; dengan perbuatannyalah ia bisa tidak suci. Karenanya tidak ada seorang pun yang tidak berdosa semata-mata karena dilahirkan dalam keadaan tidak berdosa. Begitu pula bagi Yesus, salah sekali untuk menarik kesimpulan ketidak berdosaannya semata-mata dari kenyataan yang disebut “ruh dari Tuhan”. Setiap jiwa manusia adalah ruh dari Tuhan, tapi tidak membawa kita lebih lanjut selain ia dilahirkan tak berdosa. Untuk menunjukkan bahwa dia tetap tak berdosa, sesuatu lebih diperlukan lagi.

Begitu pula, Yesus tidak bisa dikatakan tidak berdosa kalau semata-mata karena dia dilahirkan sesuai dengan ramalan Ilahi. Sebagai makhluk Tuhan, dia adalah firman Tuhan juga, setiap makhluk Tuhan adalah firman Tuhan. Qur’an jelas sekali menerangkan ini:

“Sekiranya lautan itu tinta untuk (menulis) firman Tuhanku, niscaya lautan itu akan habis sebelum habis firman Tuhanku, walaupun Kami datangkan lagi yang sama dengan itu untuk ditambahkan” (18:109).

Dan di tempat lain yang berhubungan dengan itu jelas sekali bahwa yang dimaksud firman
Tuhan itu artinya hanyalah ciptaan Tuhan:

“Apa yang ada di langit dan di bumi kepunyaan Allah. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-cukup sendiri, Yang Maha-terpuji, dan jika semua pohon yang ada di bumi itu pena, dan semua lautan dengan ditambah tujuh lautan lagi, kalimah Allah itu tak akan habis. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang Maha-bijaksana.  Kejadian kamu dan kebangkitan kamu itu hanyalah seperti satu jiwa. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang Maha-melihat” (31:26-28). 

Karenanya Yesus menikmati persamaan hak dalam mengaku tak berdosa dengan disebut firman Tuhan.

Masalah yang sebenarnya perlu dipertimbangkan, adalah apa yang telah dikatakan oleh Qur’an Suci terhadap sikap hidupnya. Apakah ia mengatakan bahwa dia menuntun hidupnya dalam keadaan tak berdosa? Apakah ia mengatakan bahwa kehidupan Nabi-nabi yang lain tidak dituntun dalam keadaan tak berdosa? Tidak ada perbedaan yang bisa ditemui di mana pun di lembaran-lembaran Kitab Suci itu. Dikatakan mengenai sikap hidup Yesus:

“Dan agar aku berbakti kepada ibuku; dan Ia tak membuat aku seorang yang sombong, yang celaka” (19:32).

Qur’an Suci dalam kalimat itu hanya menjelaskannya agar jangan sombong terhadap ibunya yang mana ini tercantum di dalam kisah Injil. Namun Qur’an pun membicarakan Nabi-nabi lain dengan pujian yang tinggi. Qur’an berfirman tentang Yahya Pembaptis:

“Dan Kami berikan hikmah kepadanya tatkala ia masih kanak-kanak, dan Kami berikan kepadanya sifat baik hati dan kesucian dari-Ku. Dan ia amatlah patuh. Dan ia berbakti kepada ayah ibunya, dan sekali-kali tak sombong dan durhaka” (Quran Suci, 19:12-14).

Jelas sekali di sini kita diberitahu bahwa Yahya tidak saja dikaruniai kesucian tapi juga beliau taat sekali, yakni tak pernah melakukan perbuatan dosa, dan jelas sekali beliau dikatakan tak berdosa, suatu kehormatan yang tidak diberikan kepada Yesus Kristus. Tidakkah menakjubkan bahwa Qur’an Suci menyebut Yahya dan Yesus bersama-sama, dan sementara itu masih membicarakan salah seorangnya tidak berdosa, sedangkan yang lainnya hanya dikatakan bahwa dia tidak kurang ajar terhadap ibunya? Mengapa ia tidak membicarakan bahwa Yesus pun tidak berdosa? Apakah kealpaan ini semata-mata karena Qur’an Suci tidak melihat Yesus sebagai pribadi yang tak berdosa? Tentu saja tidak. Yang benar adalah apa yang dikatakan Qur’an Suci terhadap salah seorang Nabi dalam hal itu adalah benarnya semua Nabi. Tak mungkin bahwa Yahya harus berdosa, sementara Nabinabi yang lain berdosa. Tapi ia memilih Yahya sebagai contoh dalam hal ini, dan bukan Yesus, sebab para pengikut Yesus telah begitu jauh mengangkat beliau kepada derajat Ketuhanan, dan ini sebagai peringatan terhadap kesalahan mereka yang tidak membicarakan sikap Yesus dalam kata-kata pujian seperti halnya terhadap Yahya.


Lembaran-lembaran Qur’an Suci penuh dengan contoh seperti itu. Ibrahin disebut siddiq atau orang yang paling benar, namun Yesus tidak disebut demikian. Lagi, tentang dia dikatakan bahwa beliau dikaruniai “petunjuk”, tapi tidak adanya kata-kata seperti itu yang diterapkan terhadap Nabi-nabi yang lain bukan berarti mereka itu tidak mendapat karunia “petunjuk”. Mengenai Musa dikatakan:

“Dan Aku akan mencurahkan kecintaan kepada engkau dari-Ku, dan agar engkau dibesarkan di hadapan penglihatan-Ku” (Quran Suci, 20:39).

Namun Nabi-nabi yang lain pun dikarunia curahan kecintaan dari Tuhan meskipun kata-kata yang sama seperti itu tidak digunakan kepada salah seorang dari antara mereka di mana pun di dalam Qur’an. Dawud disebut awwab, atau yang kembali kepada Tuhan berkali-kali, tanpa berarti bahwa Nabi-nabi yang lain tidak patut mendapat sebutan seperti itu. Kenyataannya, Qur’an memperlakukan semua Nabi satu derajat, dan bila membicarakan salah seorang dari mereka sebagai memiliki akhlak mulia, itu berarti akhlak mulia itu pun bisa dijumpai di semua Nabi yang lain. Untuk mengetahui hal ini perlu diperhatikan katakata berikut ini:

“Wahai para Utusan, makanlah barang-barang yang baik dan berbuatlah kebaikan.  Sesungguhnya Aku Yang Maha-tahu apa yang kamu lakukan. Dan sesungguhnya umat kami ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kamu” (23:51-52).

Dari sini dibicarakan ketidak berdosaan para Nabi secara keseluruhan:

“Dan tiada Kami mengutus Utusan sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tak ada tuhan selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku. Mereka berkata: Tuhan Yang Maha-pemurah memungut putera. Maha-suci Dia. Tidak malahan mereka hamba yang terhormat. Mereka tak mendahului Dia dalam pembicaraan, dan mereka berbuat sesuai dengan perintah-Nya” (Quran Suci, 21:25-27).

Jadi tidak dalam ucapan tidak pula dalam perbuatan yang dilakukan oleh para Nabi yang melanggar batas-batas Ilahi, dan ini bukti tuntas bahwa menurut Qur’an Suci para Nabi itu tak berdosa.

Sangka buruk Kristen terhadap ini adalah bahwa sementara Nabi Suci Muhammad disuruh berlindung dengan istighfar, sedangkan Yesus tidak disuruh apa-apa. Tidak terlihatkah bahwa Qur’an Suci tak mengakui perbedaan perlakuan terhadap Yesus? Kesalahan yang sama pun dilakukan dalam hal ini. Nuh, Hud, Salih, Syu’aib dan lain32 lainnya sama-sama tidak membicarakan disuruh berlindung dengan istighfar. Jadi tak terlihatkah bahwa para Nabi itu dipandang tak berdosa sementara lainnya tak dianggap begitu? Latar belakang yang disebutkan di atas tadi, tidak ada perbedaan perlakuan di antara berbagai Nabi. Tidak pula istighfar itu semata karena tak berdosa. Di satu pihak ditunjukkan, bahwa mencari ghafar (pengampunan) yang kata itu maknanya menurut Imam Raghib menutup sesuatu dengan sesuatu yang akan melindunginya dari kotoran. Maka istighfar itu menurut ahli kamus yang termasyhur tersebut, menunjukkan semata-mata mencari penutup atau perlindungan, yaitu perlindungan dari siksaan maupun perlindungan terhadap dosa. Lane juga menerangkan istighfar ini dengan makna dia mencari perlindungan Tuhan atau pengampunan atau maaf. Qastalani, salah seorang penafsir kitab Bukhari mengatakan, ghafar maknanya sitr yakni menutup, apakah itu antara manusia dengan dosanya maupun antara dosa dan hukuman. Maka tampaklah bahwa pengertian perlindungan ataupun penutup adalah pengertian dalam ghafar dan istighfar, dan kata-kata tersebut berarti perlindungan terhadap dosa maupun perlindungan terhadap hukuman. Semuanya termasuk dalam dua perkara: (1) melawan kesalahan yang telah dilakukan, berlindung dari hukuman; dan (2) melawan kesalahan yang tidak dilakukan tapi bagi orang yang bertanggungjawab, yakni perlindungan dari perintah itu. Kata-kata itu digunakan di dalam Qur’an Suci untuk kedua hal tersebut. Di sini saya akan berikan satu contoh saja dari dua makna tersebut. Di akhir Surat kedua do’a itu diajarkan: “Ampunilah kami dan berilah kami perlindungan dan karuniakanlah kasih sayang kepada kami” asal kata berilah kami perlidungan adalah ighfir lana, yang jika diterapkan sebagai ampunilah kami menjadi kurang berarti karena makna tersebut didahului oleh kata wa’fu anna. Tiga perbedaan di sini jelas sekali untuk do’a itu: (1) Ampunilah dosa-dosa yang telah dilakukan; (2) lindungi dari dosa terhadap seseorang yang bertanggungjawab; dan (3) kasih sayang atau karunia dari Tuhan.

Sebagaimana telah saya tunjukkan, sejak Qur’an Suci menjelaskannya dalam katakata yang terang prinsip ketidak berdosaan para Nabi, istighfar dalam perkara mereka hanya dapat diambil arti mencari perlindungan dari dosa bagi orang yang bertanggungjawab, dan dalam pengertian ini segenap Nabiyullah dan semua orang tulus berlindung pada istighfar yakni mereka mohon perlindungan Tuhan. Istighfar dalam pengertian yang sesungguhnya adalah berusaha jangan sampai terkena dosa. Orang yang teguh hatinya dalam berjuang melawan kejahatan suatu kali bisa saja jatuh, karena itu orang-orang tulus para hamba Tuhan selalu berlindung kepada Allah, dan di bawah perlindungan Ilahi itulah mereka benar-benar terselamatkan. Istighfar dalam pengertian ini benar-benar membuat seseorang dapat mencapai perkembangan tingkat rohani yang tertinggi, dan karena itulah para Nabiyullah yang telah mencapai tingkat itu selalu mencari perlindungan. Dan jika beberapa Nabi tidak disebutkan mencari perlindungan dalam istighfar, paling tidak para malaikat memohonkan istighfar untuk mereka semua. Di dalam Surat 40:7, para malaikat ditunjukkan berdo’a bagi orang-orang tulus seperti dalam kata-kata berikut: “Berilah perlindungan kepada orangorang yang bertobat kepada Engkau dan mengikuti jalan Engkau”, di sini digunakan kata ighfir. Kini semua Nabiyullah, dan sudah tentu Yesus di antara mereka, pasti termasuk orang-orang yang “mengikuti jalan Engkau”, dan ayat ini menunjukkan bahwa istighfar tidak saja dimohon oleh orang-orang tulus, namun juga oleh para malaikat demi keselamatan mereka. Dan dalam hal Yesus, nenek beliau disebutkan berdo’a untuknya jauh sebelum beliau dilahirkan dalam kata-kata yang sama: “Dan aku beri nama dia Maryam dan aku memohonkan untuk dia dan keturunannya dalam perlindungan Dikau dari setan yang terkutuk” (3:35), dimana kata I’azah atau u’idzah digunakan dalam arti istighfar yang makna keduanya sama saja yakni mohon perlindungan.

Sebelum meninggalkan masalah ini, perlu kiranya memberikan penerangan terhadap satu poin lagi. Seringkali dikatakan bahwa Nabi itu diperintahkan untuk ber-istighfar karena dhanb yang artinya berdosa. Bahkan sekalipun berdosa itu disebut dhanb, maknanya sama saja yaitu mohon perlindungan Ilahi dari dhanb bagi orang yang bertanggungjawab atas perbuatannya. Tapi sebenarnya dhanb itu istilah yang luas sekali maknanya dan tidak selalu menunjukkan kepada dosa. Imam Raghib memberitahu kepada kita bahwa kata dhanb makna aslinya adalah mengambil buntut sesuatu, dan ini diterapkan kepada setiap perbuatan yang konsekwensinya tidak dipertanggungjawabkan atau tidak baik. Menurut Lane, dhanb artinya dosa, kejahatan, kesalahan. Ini dikatakan berbeda dengan kata itsmun, apakah perbuatan itu disengaja atau dilakukan karena kealpaan, dimana itsmun khususnya dilakukan secara sengaja (lihat Lane Lexicon yang dikutip secara resmi). Maka nampaklah kata dhanbun adalah kata yang luas sekali artinya dan dapat digunakan sebagai dosa karena kelalaian jiwa, karena kekurangan akibat ketidak sengajaan, dan bahkan terhadap kekurangan dan ketidak sempurnaan yang bisa mengakibatkan kurang berkenan, dan penggunaan kata-kata ini di dalam Qur’an Suci, diterapkan kepada semua naungan ketidak sengajaan, dari kesalahan yang paling mendasar hingga kepada kecacatan dan ketidak sempurnaan sifat manusia bahkan orang yang sempurna pun tidak luput darinya, ini sesuai sekali dengan yang dikatakan kamus tadi. Dalam bahasa Inggris kata sin (dosa) tidak ada sama dengan kata dhanbun, dan kata fault (khilaf), lebih dekat kepada arti yang lebih luas.

Seringkali kita diberitahu oleh kaum Kristen yang tak bertanggungjawab yang selalu kontroversial bahwa Nabi Suci Muhammad menyembah berhala di waktu kanak-kanaknya dan karenanya beliau disebut seorang yang sesat di dalam Qur’an. Pernyataan ini tidak sedikit buktinya. Di satu pihak, ada kesaksian sejarah yang meyakinkan bahwa, sewaktu perjalanan awalnya ke Syria sewaktu menemani pamannya, beliau mengatakan benci sekali terhadap penyembahan berhala, maka ketika dua berhala diberi nama di hadapan beliau, beliau berteriak: “Demi Allah! Saya tak pernah membenci sesuatu sebenci terhadap memberikan sesajen kepada berhala”. Semasa kanak-kanaknya, banyak sekali cerita lucu yang berhubungan dengan pamannya, Abu Thalib yang sangat terkesan sekali pada Nabi karena akhlaknya yang mulia yang terdapat padanya, yang di hari belakangan bangsanya sendiri semuanya melawan beliau, ketika kaum Quraisy bangkit melawan beliau seorang diri, dan ini menjadi bukti kuat kebencian beliau terhadap penyembahan berhala dan segala sesuatu yang menyerupai itu. Abu Thalib memberitahukan saudaranya ‘Abbas bahwa beliau tak pernah menjumpai Muhammad berkata dusta, tidak pula pernah melihat beliau mengejek atau membodoh-bodohi orang (istilah umum mengenai keburukan); tidak pernah pula pergi bersama anak-anak lainnya untuk bersenang-senang. Bukan saja perilaku yang tak ada harganya ataupun perbuatan rendah yang tak pernah dijumpai pada diri beliau, tapi kemuliaan, ketulusan, rasa hormat, jujur dan akhlak mulia lainnya saja yang bisa dijumpai pada pribadi beliau hingga beliau menerima gelar Al-Amin (Yang paling amanah) dari kalangan sebangsanya.

Di mana pun di dalam Qur’an Suci tidak ada pernyataan atau kata-kata bahwa beliau itu sesat. Di pihak lain, jelas sekali dikatakan: “Sahabatmu tidaklah sesat, tidak pula menyimpang” (53:2). Kata dall tidak selalu berarti seseorang itu sesat. Lane memberitahu kita bahwa ucapan dalla yang kata daall adalah bentuk nominatif yang artinya dia bingung dan tak bisa melihat jalan. Dalam arti inilah yang disampaikan oleh kata dall di dalam 93:7, sebagaimana teksnya jelas sekali menunjukkan. Di sana ada satu pernyataan dari tiga:

“Bukankah Ia menemukan engkau seorang anak yatim, lalu Ia memberi perlindungan? Dan mendapatkan engkau tidak bisa melihat jalan dan ditunjukkanya? Dan mendapatkan engkau dalam kekurangan dan Ia mencukupi engkau dari kekurangan itu?” (93:6-8).

Dan sehubungan dengan tiga pernyataan tersebut khususnya dan dalam maksud yang sama, kita dapati tiga perintah:

Terhadap anak yatim kita tidak boleh menindasnya. Dan bagi orang yang bertanya, kita tidak boleh mencemoohkannya. Dan terhadap karunia Ilahi kita harus menyatakannya.

Ini terlihat jelas bahwa dalam pernyataan pertama, kita mempunyai pernyataan Nabi Suci sebagai anak yatim, menurut anjuran pertama tadi bahwa terhadap anak yatim itu kita tidak boleh menindas. Dan pada pernyataan ketiga kita dapati Nabi Suci dikatakan orang yang kekurangan dan karunia Ilahi memenuhi kekurangan itu, menurut anjuran ketiga tadi dia harus menyatakan karunia itu kepada dunia.

Penyajian itu memberi keyakinan bahwa pernyataan yang kedua dan anjuran yang kedua itu harus juga berhubungan satu sama lain. Nah anjuran kedua itu jelas sekali. Dikatakan bahwa seseorang yang memohon sesuatu jangan dicemoohkan, sementara pernyataan kedua mengatakan bahwa Nabi telah diberi petunjuk setelah mendapatkan pernyataan itu. Hubungan antara keduanya meyakinkan bahwa pernyataan itu adalah pernyataan seseorang yang meminta kebenaran agama, sebab konsekwensi dari itu adalah petunjuk yang benar. Jadi kenyataannya menyebutkan bahwa Nabi Suci, mendapat orang di sekeliling beliau dalam keadaan jahiliyah, dan beliau sangat berharap sekali dapat memperbaiki mereka, namun belum mendapat jalan bagaimana cara untuk mereformasi mereka, dan Tuhan sendirilah yang memberi petunjuk atau jalan tersebut kepada beliau. Allah mendapati Nabi sedang mencari-cari jalan, tapi beliau benar-benar belum mendapat jalan dengan usahanya sendiri, lalu Dia memberi petunjuk kepadanya dengan Cahaya Ilahi. Dan Qur’an Suci menjelaskan sendiri ketika difirmankan di tempat lain:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepada engkau suatu Kitab yang membangkitkan ruh dengan perintah Kami. Engkau tak tahu apakah Kitab itu, dan tak tahu pula apakah Iman itu; tetapi Kami membuat itu cahaya, yang dengan cahaya itu Kami memberi petunjuk kepada siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami” (42:52).

0 komentar:

Posting Komentar