Tidak ada penghinaan yang lebih tinggi lagi yang dapat ditemukan bagi
kemanusiaan selain mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan sudah berdosa.
Dengan dasar inilah doktrin Kristen mengajarkan bahwa seseorang anak yang mati
sebelum dibaptis harus dibakar di neraka terlebih dulu karena kesalahan itu
hanya dapat disifatkan kepada Tuhan Sendiri karena dialah yang menciptakannya
dalam keadaan berdosa. Dan jika manusia itu dilahirkan berdosa, dan karena dosa
itu sudah melekat dalam diri manusia, maka sangat mustahil untuk mengajarkan
kebajikan kepadanya dan mustahil pula untuk menyingkiri setiap kejahatan, karena
tak mungkin mengajarkan sesuatu kepada yang sudah menjadi fitrahnya. Doktrin
semacam ini tak bisa dibayangkan oleh orang yang percaya bahwa anakanak itu
belum mengerti apa-apa:
“Biarkan anak-anak itu dan jangan melarang mereka datang
kepadaku, karena orangorang yang seperti inilah penghuni kerajaan di sorga”
(Matius 19:14).
Ternyata Kristus sendiri mengakui kesucian anak-anak.
Namun Nabi Suci Muhammad saw bersabda dengan kata-kata yang lebih jelas bahwa “anak
dilahirkan sesuai dengan fitrahnya” yaitu: “tak berdosa”, demikianlah seorang
Muslim yang dilahirkan, dan “orang tuanyalah yang membuat dia Yahudi atau
Nasrani atau Majusi”. Dan Qur’an Suci mengatakan dengan jelas:
“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada
agama, fitrah buatan Allah yang Dia
ciptakan manusia atas fitrahnya …. Itulah agama yang benar”
(30:30).
Jadi dalam Islam fitrah manusia dibangkitkan ke tingkat
yang lebih mulia dengan menyatakan kesuciannya, sementara di dalam agama Kristen
dihinakan ke tingkat yang serendah-rendahnya dengan menyatakan dosa yang telah
melekat, doktrin ini sangat berlawanan dengan fitrahnya yang tak mungkin bisa
beranjak. Pandangan rendah terhadap fitrah manusia yang dibentuk oleh pondasi
ajaran agama Kristen itu sudah tentu, cepat atau lambat, pasti ditinggalkan oleh
dunia beradab.
Islam mengajarkan tidak saja memulainya dari dasar fitrah
manusia yang tak berdosa namun juga berpendirian dengan kokohnya bahwa setiap
anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci murni, bahkan lebih maju lagi dengan
memberikan tuntunan serta aturan yang tetap agar kesucian itu tetap terpelihara.
Pertama-tama Islam mengajarkan shalat kepadanya, dimana shalat ini diulang lima
kali dalam seharinya oleh kaum Muslim, ia diajarkan untuk berusaha jangan sampai
terkena dosa, bahkan lebih dalam lagi, demi mencapai keluhuran rohani, maka para Nabi dan orang-orang
tulus dibangkitkan yang tujuannya adalah demi
kemaslahatan umat manusia. Difirmankan:
“Pimpinlah kami ke jalan yang benar,
yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau
beri nikmat” (Qur’an Suci, 1:5-6).
Perbedaan utama antara do’a kaum Muslim dan do’a Bapak
umat Kristen yaitu, sementara do’anya Bapak adalah untuk mengampuni orang-orang
yang sudah berdosa, sedangkan do’anya kaum Muslim diajarkan untuk menghindari
agar dosa jangan sampai hinggap pada dirinya, yang bukan saja perbuatan jahat
harus dihindari namun perbuatan baik pun harus dilakukan. Yang pertama meminta
untuk diampuni dosa, sedangkan yang kedua agar jangan sampai terkena dosa dan
demi berbuat kebaikan. Jadi, jika, di satu pihak, Islam mengangkat derajat
manusia, di pihak lain mencita-citakan keluhuran setinggi mungkin.
Terhadap dua perbedaan agama yang fundamental ini Islam
mengajarkan bahwa para Nabiyullah tidak berdosa, sedangkan agama Kristen
menanamkan faham yang bertentangan, yaitu semua orang tulus dimana umat manusia
punya hutang budi kepada mereka dianggap berdosa, dan Yesus sendiri, makhluk
yang dianggap berbeda dari manusia lainnya, ia pun
tidak berdosa. Kini, pertama tama harus disadari bahwa bila sekedar
tak berdosa, ini bukanlah jaminan bahwa
itu bukti suatu keagungan. Tak berdosa itu hanya berarti
menghindari perbuatan jahat sebagai langkah awal dalam perkembangan
rohani manusia untuk berbuat baik, dan
di dalam melakukan perbuatan baik itulah letaknya kemuliaan. Kami tak mengatakan
kemuliaan manusia itu sesederhana itu yakni sekedar tak pernah berbuat lalim
terhadap orang lain kemudian memberi gelar dan kedudukan kepada orang itu lebih
istimewa dari orang biasa. Masalah tak berdosa ini, dimana banyak sekali
ditekankan oleh agama Kristen, adalah orang yang sangat sedikit sekali
maslahatnya, sementara hakikat yang diperbuat oleh para Nabi adalah perbuatan
baik demi kemaslahatan umat. Malah mungkin, ratusan ribu umat manusia yang
pernah hidup tanpa melakukan kejahatan terhadap orang lain pun, hanya
digolongkan orang-orang yang tak berbuat kerusakan, atau mereka memilih
melakukan kehidupan pertapa bagaikan di biara, atau hidup di dunia yang
memungkinkan mereka menghindari segala godaan. Karenanya kalau semata-mata tak
berdosa, seseorang itu kadang-kadang boleh menerima kehormatan, yang pada
kesempatan lain sikapnya mungkin mengagumkan; tapi tak ada perbuatan yang patut
disebut mulia dan bermanfaat bagi kemanusiaan kalau hanya menghindari perbuatan
yang bisa merugikan semata. Dan kemaslahatan bagi kemanusiaan itu, seseorang
harus benar-benar berbuat sejumlah kebaikan bagi orang lain yang dalam hal ini
Nabi Besar dikatakan sebagai “rahmatan lil’alamin - kasih
sayang bagi segenap bangsa”. Beliaulah yang telah melenyapkan penyembahan
berhala, membasmi minum-minuman keras yang sudah merajalela, menolong anak-anak
yatim, kaum papa maupun kaum lemah, menegakkan prinsip persaudaraan umat
manusia, membuang perbedaan ras antara bangsa yang satu dengan bangsa lainnya,
meniupkan ruh segar persaudaraan umat di antara segenap bangsa, meniupkan obor
ilmu pengetahuan kepada manusia bodoh, dan beliaulah yang menjadi sumber karunia kemanusiaan di dalam
segala hal.
Karenanya, kami akan mengemukakan masalah yang diletakkan
Kristen. Apakah Yesus itu tak berdosa?
Apakah semua Nabiyullah berdosa? Apa yang dikatakan Bebel
terhadap dua masalah ini? Dan apa yang dikatakan oleh Qur’an
Suci?
Pertama, mari kita ambil apa yang dikatakan Injil dan
masalah tak berdosanya Yesus
Kristus. Pada permulaan masa kependetaannya beliau pernah mengalami
digoda setan. Peristiwa tersebut dikatakan perbuatannya tak bisa dilihat, tapi
sebagaimana para komentator Injil mengatakan, bahwa “pengalaman” Yesus ditulis
sebagai “bahasa simbolik” saja. Dalam bahasa yang jelas ini artinya adalah
godaan yang dilakukan Setan terhadap Yesus, dan ini artinya tidak konsisten
dengan teori ketidak berdosaannya Yesus. Godaan Setan sebenarnya datang sebagai
gagasan jahat pada hati manusia, dan meskipun gagasan tersebut bisa saja
akhirnya ditolak, meskipun penerimaan awalnya oleh hati tak sesuai dengan
kesucian hati nurani. Dalam hal Yesus, tiga macam kejahatan itu dikatakan
benarbenar terjadi pada beliau. Pertama, godaan Setan dilakukan ketika Yesus
sangat lapar setelah lama berpuasa: “Perintahlah batu-batu ini agar menjadi
roti” (Matius 4:3). Yang kedua dilakukan dengan naik ke atas puncak menara kuil,
atau di suatu tempat yang
tinggi seperti djelaskan oleh Injil berikut ini:
“Terjunlah engkau sendiri ke bawah: sebab telah tertulis,
Dia akan menyuruh para malaikat untuk
melindungimu; tangan mereka akan menyambut engkau, hingga
setiap waktu kakimu tidak akan menyentuh debu” (Matius
4:3).
Yang
ketiga dengan memanjat ke gunung yang tinggi yang dari sana “segala kerajaan
dunia”
dan
kebesarannya diperlihatkan kepadanya:
“Segala sesuatu itu akan aku berikan kepadamu, jika
engkau mau bersujud dan menyembahku” (Matius
4:9).
Yang terakhir ini tak ragu lagi adalah puncak godaan bagi
Yesus meskipun Yesus menolaknya dengan kata-kata yang jitu: “Sembahlah Tuhan,
Tuhanmu, dan hanya kepadanya kamu harus mengabdi” (Matius 4:10).
Kata-kata seperti ini tak mungkin dikatakan oleh para pengikut Yesus yang
kenyataannya mereka cuma menyembah Mamon dan menyembah kebesaran duniawi untuk
mencapai kerajaan seperti itu. Di sini di setiap perbandingan suatu kejadian
yang diputuskan secara tuntas bahwa Yesus tidak memiliki kesucian mutlak menurut
Injil, dan Setan dapat menggodanya seperti juga menggoda orang lainnya. Beliau
sungguh memiliki kekuatan rohani yang kuasa mengatasi godaan, tetapi jika beliau
memiliki lebih dari itu, niscaya beliau akan terbebas dari godaan Setan tadi.
Dari sini dapat diketahui dengan jalan yang berbeda bahwa Qur’an Suci maupun
Hadits yang keduanya diucapkan oleh
Nabi Suci bahwa seseorang yang memiliki derajat rohani yang tinggi tidak bisa dipengaruhi godaan
setan, dan dalam hal ini Hadits Sahih meriwayatkan
bahwa menurut Nabi Suci setan malahan akan tunduk kepadanya, sabda
beliau demikian:
“Karena Tuhan telah menolongku dalam melawannya maka dia
tunduk kepadaku”.
Apa yang lebih penting dari ini ialah bahwa tiga Injil
berisi bantahan yang jelas tentang ketidak berdosaannya Yesus yang diucapkan
oleh beliau sendiri. Saya kutip katakata dari Markus:
“Waktu Yesus melanjutkan perjalanannya, datanglah
seseorang berlari-lari lalu berlutut di hadapannya,
dan bertanya kepadanya: Guru yang baik, apa yang harus
aku perbuat supaya bisa mewarisi hidup abadi? Dan Yesus berkata
kepadanya, Mengapa engkau katakan aku baik? Tidak
ada yang baik kecuali satu, yaitu Tuhan”
(Markus 10:17-18).
Nah di sini Yesus disapa sebagai guru yang baik dan jika
tidak keberatan, tak seorang pun dapat menggambarkan dari situ suatu kesimpulan
bahwa beliau mengaku tidak berdosa. Tapi segera beliau menolak orang tersebut
untuk mengatakan baik,
karena yang baik itu hanya Satu, yaitu Tuhan. Mengapa beliau merasa keberatan
menggunakan kata-kata baik
jika beliau percaya bahwa dirinya tak berdosa? Tak seorang pun bisa
berkomentar, bahkan seorang komentator modern pun seperti Rev. J.R.Dummelow
membuat pernyataan yang cukup berani dengan mengatakan bahwa “ini bukan berarti
beliau tidak baik, tapi karena beberapa alasan atau lainnya pada waktu itu
beliau menolak gelar itu”. Apa yang menjadi alasan bahwa kata baik itu masih tetap
ditolak dan beliau tak mau disebut baik dan bahkan memberi alasan mengapa beliau
tak mau disebut baik, tak seorang pun pernah memberi tahu dan tak akan memberi
tahu, tapi lebih baik dua penjelasan tadi diabaikan saja.
Penjelasan pertama mengenai gelar baik “dalam pengertian yang
telah dikemukakan” tak ada bandingannya terhadap ganjaran dan pengakuan beliau.
Orang tersebut memanggilnya baik “dalam pengertian dia harus menyebut setiap
orang mulia Rabbi yang baik”. Sugesti yang amat berani! Dia adalah orang yang
lebih baik dari
sekedar kata-kata itu dan karenanya beliau menolak disebut baik yang seperti itu. Tapi
apakah dalil ini menguatkan argumen yang diberikan Yesus Kristus sendiri? Yesus
tidak memberikan argumen apa-apa, keterangan seperti itu sudah pasti rekayasa
belaka, tapi bila Yesus sendiri memberikan argumen itu betapa tak berartinya
argumen dan rekayasa melawannya. Argumen Yesus tentang baik itu tidak bisa
diterapkan kepada siapa pun kecuali pada Tuhan, dan karena inilah tidak bisa
diterapkan sekalipun kepada beliau sendiri, dengan kata lain, ganjaran dan
pengakuan beliau adalah tak ada taranya dengan kata-kata baik tersebut. Tapi kita bertanya untuk
menerima yang bertentangan dengan itu.
Penjelasan yang lainnya sama saja, menggelikan: “Sifat
kemanusiaan Kristus, meskipun tanpa dosa selama menempuh hidupnya di bumi, tidak
baik dalam pengertian yang sesungguhnya”. Penjelasan ini tidak ragu lagi dapat
diterima jika Yesus Kristus dipandang sebagai manusia biasa; pengertian itu akan
menjadi cocok dengan kata-kata, tak ada yang baik
kecuali satu yaitu Tuhan. Tapi bila
Yesus itu sendiri sebagai Tuhan, pribadi Ilahi, mengapa dia menolak untuk
dikatakan baik
dalam arti yang sesungguhnya, bahkan
ketika itu pula memberikan alasan bahwa hanya Tuhanlah yang
baik?
Sebenarnya, kata-kata yang dikutip di atas bertambah
jelas dan memberikan kesaksian tuntas terhadap doktrin tak berdosanya Yesus
yakni suatu usaha telah dilakukan sejak awal untuk merobah-robah Injil dan untuk
menggantikan kalimat-kalimatnya, tetapi perubahan itu dilakukan oleh salah
seorang dari mereka. Jadi di dalam Matius, sementara Authoris Version1 sama seperti Injil-Injil lainnya, Revised
Version2 menunjukkan perobahan dan mencantumkan jawaban
Yesus seperti ini: “Mengapa engkau menanyakan kepadaku tentang apa yang baik?
Yang baik itu Satu”. Rupanya ada sedikit kebijaksanaan dalam usaha merobah,
karena jawaban itu sangatlah canggung di mulut Yesus. Orang yang bertanya kepada
beliau tentang kebaikan itu harus hidup abadi, dan dia katakan: “Mengapa engkau
bertanya kepadaku tentang yang baik”. Jawaban ini artinya ialah bahwa dia harus
bertanya kepada orang lain bukan kepada Yesus tentang perkara baik itu, atau dia
harus menanyakan kepada Yesus bukan masalah kebaikan, tapi mengenai kejahatan.
Makanya perubahan itu menjadi canggung,
mungkin tujuannya demi menghindari kesimpulan yang jelas bahwa Yesus tidak berdosa, inilah kenyataan
yang diakui.
Rev. J.R.Dummelow mengatakan:
“Versi yang benar adalah Markus dan Lukas. Penulis Matius
(atau mungkin penyalin awal, karena
ada alasan yang harus dipertimbangkan bahwa naskah Matius
yang asli sesuai dengan Markus dan Lukas) merubah naskah itu
sedikit, demi mencegah pembaca agar
tidak menduga Yesus tidak baik”.
Keinginan untuk menjauhkan kata-kata yang menjadi
rintangan di tengah jalan dalam menegakkan ketidak berdosaan Yesus mungkin bisa
dipandang oleh seseorang sebagai seorang yang saleh, namun perbuatan merobah
Tulisan Suci tersebut tidak ragu lagi adalah salah satu perbuatan kaum Kristen
yang dicela Qur’an Suci.
Jika kitab suci tersebut tidak mengizinkan kita untuk
menganggap Yesus Kristus benar-benar tak berdosa, kita akan lihat apakah mereka
mengizinkan kita untuk menyebut para Nabiyullah yang lain berdosa. Keterangan
dari Perjanjian Lama berikut ini harus kita pertimbangkan dulu. “Nuh sebagai
manusia biasa dan sempurna di kalangan generasinya,
dan Nuh berjalan bersama Tuhan” (Kejadian 6:9). Kepada
Ibrahim Tuhan berkata: “Berjalanlah di hadapanku, dan engkau akan sempurna”
(Kejadian 17:1). Kepada Musa dia berkata: “Engkau akan sempurna dengan
Rabb Tuhanmu” (Ulangan 18:13) Bisakah ini diduga bahwa semua Nabi itu
berdosa meskipun mereka itu keadaannya sempurna dan mereka berjalan bersama
Tuhan? Yesus sendiri tidak meminta kepada kita untuk jadi sempurna “Bapakmu yang
ada di sorga itulah yang sempurna” (Matius 5:48). Dan apakah kesempurnaan
para hamba Tuhan yang tulus selain artinya mereka itu benar-benar tulus hatinya,
tak pernah salah dalam hidupnya, tak berdosa dan tak pernah berbuat kerugian,
dan meniru Tuhan dalam berbuat baik kepada orang lain? Sebenarnya, sempurna itu lebih berarti
daripada sekedar tak
berdosa. Manusia yang sempurna di hadapan Tuhan tidak hanya tidak
berdosa saja tapi juga berbuat kebaikan utama. Dawud pun berbicara mengenai
kesucian Tuhan:
“Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela yang
berjalan di dalam hukum Tuhan. Berbahagialah
orang yang mengikuti perintahnya, dan mencarinya dengan
sepenuh hati. Mereka juga tidak melakukan kejahatan, mereka
berjalan di jalannya” (Mazmur
119:1-3).
Lagi:
“Mulut orang yang tulus berbicara bijaksana, dan lidahnya
berbicara arif. Hukum Tuhannya ada dalam
hatinya; langkahnya tak akan meleset” (Mazmur 37:30-31).
Kalau Perjanjian Lama membicarakan tidak berdosanya para
Nabi maupun orang-orang tulus dalam kata-kata yang begitu jelas, Injil pun
memberikan bukti yang sama. Kesaksian yang menyatakan ketidak berdosaan Zakaria
dan isterinya Elizabeth tertulis seperti berikut:
“Dan
keduanya orang tulus di hadapan Tuhan, berjalan di atas semua perintah dan aturan Tuhan tidak tercela” (Lukas
1:6).
Jika doktrin ketidak berdosaan Yesus didasarkan atas
ucapan Yohanes sendiri, “kamu yakin aku berdosa” , kata-kata yang jelas mengenai
Zakaria dan Elizabeth bahwa mereka itu tidak tercela
pasti akan memperkuat dasar ketidak
berdosaan mereka. Karena Yesus hanya mengaku tak ada orang yang bisa menuduhnya
berdosa, maka orang itu bisa berdosa di hadapan Tuhan meskipun tak ada orang
lain bisa menuduhnya berdosa. Di pihak lain, orang yang dikatakan oleh Tuhan
bahwa ia tidak tercela
bisa jadi ia tidak berdosa, karena alasan inilah anak kecil yang
lahir dari kedua orang tua tak berdosa itu dikatakan di dalam Injil “berisi atau
dikuasai oleh Ruhul Kudus sekalipun datang dari rahim ibunya” (Lukas 1:15).Kini
Yesus menerima Ruhul Kudus pada usia tigapuluh tahun ketika beliau dibaptis
di tangan Yahya Pembaptis, tapi ternyata
Baptis itu dipenuhi Ruhul Kudus sejak dari
kandungan ibunya. Yang mana dari dua perkara besar ini yang
dikatakan tidak berdosa?
Pertimbangan kitab suci Kristen menunjukkan secara tuntas
bahwa sementara mereka menolak menyebut Yesus tak berdosa, mereka pun mengatakan
bahwa para Nabi yang lain maupun orang-orang tulus itupun sempurna dan tak
tercela. Dalam kadar tertentu, Kristen ini tidak mempunyai dasar samasekali
untuk menjelaskan setiap derajat ketidak berdosaan Yesus Kristus yang tak bisa
diterapkan kepada Nabi-nabi yang lain berdasarkan kitab suci mereka
sendiri.
Kini kita menuju pada Qur’an Suci. Persoalan pertama yang
akan kita jawab adalah: Apakah Qur’an Suci membuat perbedaan antara Yesus
Kristus dengan para Nabiyullah lainnya mengenai ketidak berdosaan mereka?
Sedikit pun tidak. Semua boleh dikatakan dalam membicarakan Yesus itu
menggunakan kata-kata yang halus, ini semua karena agama Islam baik terhdap
agama-agama lain, dan selalu membicarakan Nabi-nabi yang lain dengan penuh
hormat, yang kebanyakan mereka dicemoohkan pada waktu kedatangannya. Qur’an
membicarakan Yesus sebagai “Ruh dari-Nya”, itu bukan karena beliau itu bersifat
Ilahi, jelas sekali di mana saja bila membicarakan beliau, beliau itu tidak
lebih dari manusia biasa, tapi karena para musuhnya selalu mencomoohkan beliau
dengan menganggap dilahirkan tidak syah. “Ruh dari Tuhan” dalam pengertian ini
berarti beliau berjiwa suci, itu saja, yakni seorang yang dilahirkan dari
keturunan yang perkawinannya syah. Tuhan adalah sumber utama kesucian, dan jiwa
Yesus dikatakan datang dari-Nya, ini maknanya, sekali lagi, beliau berjiwa suci
dan beliau tidak berjiwa Setan bukan seperti dituduhkan oleh kaum Yahudi karena
beliau dilahirkan secara tidak syah.
Mengenai penggunaan kata Kalimatuhu, yakni Ucapan-Nya banyak sekali
disalah artikan. Arti dari kata itu sederhana sekali karena beliau dilahirkan
sesuai dengan ramalan, yakni sesuai dengan ramalan yang diwahyukan kepada
Maryam, kutipan di bawah ini
menjelaskan:
“Ketika malaikat berkata: Wahai Maryam,
sesungguhnya Allah memberi kabar
gembira kepada engkau dengan firman dari-Nya (tentang seorang) yang
namanya Masih, ‘Isa anak Maryam”
(3:44).
Terlihat bahwa menggunakan kedua kata yang ditunjukkan di
atas itu tidak ada arti lain bagi kita kecuali menunjukkan kesimpulan bahwa
Yesus itu tidak berdosa dalam arti beliau dilahirkan secara syah. Difirmankan
mengenai Adam: “Setelah Aku sempurnakan, lalu aku tiupkan ruh-Ku” (15:29). Dan
ruh yang ditiupkan kepada Adam juga ditiupkan kepada anakanaknya:
“Dan Ia mengawali terciptanya manusia
dari tanah. Dan Ia membuat keturunannya
dari sari air yang hina. Lalu Ia sempurnakan, kemudian Ia tiupkan
ke dalamnya ruh-Nya dan membuat untukmu telinga dan mata dan hati”
(32:7-9).
Dalam dua hal doktrin Kristen palsu yang mengajarkan
bahwa kejahatan sudah tertanam dalam diri manusia tidak dibenarkan dalam
penjelasan mengenai ruh Adam atau jiwa setiap manusia yang datang dari Tuhan.
Ruh Adam sudah bersih secara alami dan begitu juga ruh setiap manusia, karena
semuanya berproses dari sumber yang suci, yakni dari Tuhan sebagai sumber utama
kesucian, dan kejahatan itu tidak dilahirkan di dalam ruh; dengan kata lain, di
sana tidak ada Dosa Asal. Setiap orang yang dilahirkan ke dunia ini, katakanlah
sejak Adam hingga sekarang, dalam keadaan suci dari dosa. Hanya dengan melakukan
perbuatan jahatlah hadiah atau karunia kesucian dari Tuhan itu bisa ternodai.
Secara fitrah manusia itu suci; dengan perbuatannyalah ia bisa tidak suci.
Karenanya tidak ada seorang pun yang tidak berdosa semata-mata karena dilahirkan
dalam keadaan tidak berdosa. Begitu pula bagi Yesus, salah sekali untuk menarik
kesimpulan ketidak berdosaannya semata-mata dari kenyataan yang disebut “ruh
dari Tuhan”. Setiap jiwa manusia adalah ruh dari Tuhan, tapi tidak membawa kita
lebih lanjut selain ia dilahirkan tak berdosa. Untuk menunjukkan bahwa dia tetap
tak berdosa, sesuatu lebih diperlukan lagi.
Begitu pula, Yesus tidak bisa dikatakan tidak berdosa
kalau semata-mata karena dia
dilahirkan sesuai dengan ramalan Ilahi. Sebagai makhluk Tuhan, dia
adalah firman Tuhan juga, setiap makhluk
Tuhan adalah firman Tuhan. Qur’an jelas sekali menerangkan ini:
“Sekiranya lautan itu tinta untuk
(menulis) firman Tuhanku, niscaya lautan itu akan
habis sebelum habis firman Tuhanku, walaupun Kami datangkan lagi
yang sama dengan itu untuk ditambahkan”
(18:109).
Dan
di tempat lain yang berhubungan dengan itu jelas sekali bahwa yang dimaksud
firman
Tuhan
itu artinya hanyalah ciptaan Tuhan:
“Apa yang ada di langit dan di bumi
kepunyaan Allah. Sesungguhnya Allah itu Yang
Maha-cukup sendiri, Yang Maha-terpuji, dan jika semua pohon yang
ada di bumi itu pena, dan semua lautan
dengan ditambah tujuh lautan lagi, kalimah Allah itu tak
akan habis. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-perkasa, Yang
Maha-bijaksana. Kejadian kamu dan
kebangkitan kamu itu hanyalah seperti satu jiwa. Sesungguhnya Allah itu Yang Maha-mendengar, Yang
Maha-melihat” (31:26-28).
Karenanya Yesus menikmati persamaan hak dalam mengaku tak
berdosa dengan disebut firman
Tuhan.
Masalah yang sebenarnya perlu dipertimbangkan, adalah apa
yang telah dikatakan oleh Qur’an Suci terhadap sikap hidupnya. Apakah ia
mengatakan bahwa dia menuntun hidupnya dalam keadaan tak berdosa? Apakah ia
mengatakan bahwa kehidupan Nabi-nabi yang lain tidak dituntun dalam keadaan tak
berdosa? Tidak ada perbedaan yang bisa ditemui di mana pun di lembaran-lembaran
Kitab Suci itu. Dikatakan mengenai sikap hidup Yesus:
“Dan agar aku berbakti kepada ibuku;
dan Ia tak membuat aku seorang yang
sombong, yang celaka” (19:32).
Qur’an Suci dalam kalimat itu hanya menjelaskannya agar
jangan sombong terhadap ibunya yang mana ini tercantum di dalam kisah Injil.
Namun Qur’an pun membicarakan Nabi-nabi lain dengan pujian yang tinggi. Qur’an
berfirman tentang Yahya Pembaptis:
“Dan Kami berikan hikmah kepadanya
tatkala ia masih kanak-kanak, dan Kami
berikan kepadanya sifat baik hati dan kesucian dari-Ku. Dan ia
amatlah patuh. Dan ia berbakti kepada ayah
ibunya, dan sekali-kali tak sombong dan durhaka” (Qur’an
Suci, 19:12-14).
Jelas sekali di sini kita diberitahu bahwa Yahya tidak
saja dikaruniai kesucian tapi juga beliau taat sekali, yakni tak pernah
melakukan perbuatan dosa, dan jelas sekali beliau dikatakan tak berdosa, suatu
kehormatan yang tidak diberikan kepada Yesus Kristus. Tidakkah menakjubkan bahwa
Qur’an Suci menyebut Yahya dan Yesus bersama-sama, dan sementara itu masih
membicarakan salah seorangnya tidak berdosa, sedangkan yang lainnya hanya
dikatakan bahwa dia tidak kurang ajar terhadap ibunya? Mengapa ia tidak
membicarakan bahwa Yesus pun tidak berdosa? Apakah kealpaan ini semata-mata
karena Qur’an Suci tidak melihat Yesus sebagai pribadi yang tak berdosa? Tentu
saja tidak. Yang benar adalah apa yang dikatakan Qur’an Suci terhadap salah
seorang Nabi dalam hal itu adalah benarnya semua Nabi. Tak mungkin bahwa Yahya
harus berdosa, sementara Nabinabi yang lain berdosa. Tapi ia memilih Yahya
sebagai contoh dalam hal ini, dan bukan Yesus, sebab para pengikut Yesus telah
begitu jauh mengangkat beliau kepada derajat Ketuhanan, dan ini sebagai
peringatan terhadap kesalahan mereka yang tidak membicarakan sikap Yesus dalam
kata-kata pujian seperti halnya terhadap Yahya.
Lembaran-lembaran Qur’an Suci penuh dengan contoh seperti
itu. Ibrahin disebut siddiq
atau orang yang paling benar,
namun Yesus tidak disebut demikian. Lagi, tentang dia dikatakan bahwa beliau
dikaruniai “petunjuk”, tapi tidak adanya kata-kata seperti itu yang diterapkan
terhadap Nabi-nabi yang lain bukan berarti mereka itu tidak mendapat
karunia “petunjuk”. Mengenai Musa
dikatakan:
“Dan Aku akan mencurahkan kecintaan
kepada engkau dari-Ku, dan agar engkau
dibesarkan di hadapan penglihatan-Ku” (Qur’an Suci, 20:39).
Namun Nabi-nabi yang lain pun dikarunia curahan kecintaan
dari Tuhan meskipun kata-kata yang sama seperti itu tidak digunakan kepada salah
seorang dari antara mereka di mana pun di dalam Qur’an. Dawud disebut awwab, atau yang kembali kepada Tuhan
berkali-kali, tanpa berarti bahwa
Nabi-nabi yang lain tidak patut mendapat sebutan seperti itu. Kenyataannya,
Qur’an memperlakukan semua Nabi satu derajat, dan bila membicarakan salah
seorang dari mereka sebagai memiliki akhlak mulia, itu berarti akhlak mulia itu
pun bisa dijumpai di semua Nabi yang lain. Untuk mengetahui hal ini perlu
diperhatikan katakata berikut ini:
“Wahai para Utusan, makanlah
barang-barang yang baik dan berbuatlah kebaikan.
Sesungguhnya Aku Yang Maha-tahu apa yang kamu lakukan. Dan
sesungguhnya umat kami ini adalah
umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kamu” (23:51-52).
Dari
sini dibicarakan ketidak berdosaan para Nabi secara keseluruhan:
“Dan tiada Kami mengutus Utusan sebelum
engkau melainkan Kami wahyukan
kepadanya bahwa tak ada tuhan selain Aku, maka mengabdilah
kepada-Ku. Mereka berkata: Tuhan Yang
Maha-pemurah memungut putera. Maha-suci Dia. Tidak
malahan mereka hamba yang terhormat. Mereka tak mendahului Dia
dalam pembicaraan, dan mereka berbuat sesuai
dengan perintah-Nya” (Qur’an Suci,
21:25-27).
Jadi
tidak dalam ucapan tidak pula dalam perbuatan yang dilakukan oleh para Nabi yang
melanggar batas-batas Ilahi, dan ini bukti tuntas bahwa menurut Qur’an Suci para
Nabi itu tak berdosa.
Sangka buruk Kristen terhadap ini adalah bahwa sementara
Nabi Suci Muhammad disuruh berlindung
dengan istighfar,
sedangkan Yesus tidak disuruh apa-apa. Tidak
terlihatkah bahwa Qur’an Suci tak mengakui perbedaan perlakuan
terhadap Yesus? Kesalahan yang sama pun dilakukan dalam hal ini. Nuh, Hud,
Salih, Syu’aib dan lain32 lainnya sama-sama tidak membicarakan disuruh
berlindung dengan istighfar.
Jadi tak terlihatkah bahwa para Nabi itu dipandang tak berdosa
sementara lainnya tak dianggap begitu? Latar belakang yang disebutkan di atas
tadi, tidak ada perbedaan perlakuan di antara berbagai Nabi. Tidak pula istighfar itu semata karena
tak berdosa. Di satu pihak ditunjukkan, bahwa mencari ghafar (pengampunan) yang
kata itu maknanya menurut Imam Raghib menutup sesuatu dengan sesuatu yang akan melindunginya
dari kotoran. Maka istighfar
itu menurut ahli kamus yang termasyhur
tersebut, menunjukkan semata-mata mencari penutup
atau perlindungan, yaitu
perlindungan dari siksaan maupun perlindungan terhadap dosa. Lane juga
menerangkan istighfar
ini dengan makna dia mencari
perlindungan Tuhan atau pengampunan atau maaf. Qastalani, salah
seorang penafsir kitab Bukhari mengatakan, ghafar maknanya sitr yakni menutup, apakah itu antara
manusia dengan dosanya maupun antara dosa dan hukuman. Maka tampaklah bahwa
pengertian perlindungan
ataupun penutup adalah pengertian
dalam ghafar dan
istighfar, dan
kata-kata tersebut berarti perlindungan terhadap dosa maupun perlindungan terhadap
hukuman.
Semuanya termasuk dalam dua perkara: (1)
melawan kesalahan yang telah dilakukan, berlindung dari hukuman; dan (2) melawan
kesalahan yang tidak dilakukan tapi bagi orang yang bertanggungjawab, yakni
perlindungan dari perintah itu. Kata-kata itu digunakan di dalam Qur’an Suci
untuk kedua hal tersebut. Di sini saya akan berikan satu contoh saja dari dua
makna tersebut. Di akhir Surat kedua do’a itu diajarkan: “Ampunilah kami dan
berilah kami perlindungan dan
karuniakanlah kasih sayang kepada kami”
asal kata berilah kami perlidungan
adalah ighfir lana, yang jika
diterapkan sebagai ampunilah
kami menjadi kurang berarti karena makna tersebut didahului oleh kata
wa’fu anna. Tiga
perbedaan di sini jelas sekali untuk do’a itu: (1) Ampunilah dosa-dosa yang
telah dilakukan; (2) lindungi dari dosa terhadap seseorang yang
bertanggungjawab; dan (3) kasih sayang atau karunia dari
Tuhan.
Sebagaimana telah saya tunjukkan, sejak Qur’an Suci
menjelaskannya dalam katakata yang terang prinsip ketidak berdosaan para Nabi,
istighfar dalam
perkara mereka hanya dapat diambil arti
mencari perlindungan dari dosa bagi orang
yang bertanggungjawab, dan dalam pengertian ini segenap Nabiyullah dan semua orang
tulus berlindung pada istighfar
yakni mereka mohon perlindungan Tuhan.
Istighfar dalam
pengertian yang sesungguhnya adalah berusaha jangan sampai terkena dosa. Orang
yang teguh hatinya dalam berjuang melawan kejahatan suatu kali bisa saja jatuh,
karena itu orang-orang tulus para hamba Tuhan selalu berlindung kepada Allah,
dan di bawah perlindungan Ilahi itulah mereka benar-benar terselamatkan.
Istighfar dalam
pengertian ini benar-benar membuat seseorang dapat mencapai perkembangan tingkat
rohani yang tertinggi, dan karena itulah para Nabiyullah yang telah mencapai
tingkat itu selalu mencari perlindungan. Dan jika beberapa Nabi tidak disebutkan
mencari perlindungan dalam istighfar, paling tidak
para malaikat memohonkan istighfar
untuk mereka semua. Di dalam Surat 40:7,
para malaikat ditunjukkan berdo’a bagi orang-orang tulus seperti dalam kata-kata
berikut: “Berilah perlindungan kepada orangorang yang bertobat kepada Engkau dan
mengikuti jalan Engkau”, di sini digunakan kata ighfir. Kini semua Nabiyullah, dan sudah tentu Yesus di antara
mereka, pasti termasuk orang-orang yang “mengikuti jalan Engkau”, dan ayat ini
menunjukkan bahwa istighfar
tidak saja dimohon oleh orang-orang
tulus, namun juga oleh para malaikat demi keselamatan mereka. Dan dalam hal
Yesus, nenek beliau disebutkan berdo’a untuknya jauh sebelum beliau dilahirkan
dalam kata-kata yang sama: “Dan aku beri nama dia Maryam dan aku memohonkan
untuk dia dan keturunannya dalam perlindungan Dikau dari
setan yang terkutuk” (3:35), dimana kata
I’azah atau
u’idzah digunakan
dalam arti istighfar
yang makna keduanya sama
saja yakni mohon perlindungan.
Sebelum meninggalkan masalah ini, perlu kiranya
memberikan penerangan terhadap satu poin lagi. Seringkali dikatakan bahwa Nabi
itu diperintahkan untuk ber-istighfar karena
dhanb
yang artinya berdosa. Bahkan sekalipun
berdosa itu
disebut dhanb,
maknanya sama saja yaitu mohon perlindungan Ilahi dari dhanb bagi orang yang
bertanggungjawab atas perbuatannya. Tapi sebenarnya dhanb itu istilah yang luas
sekali maknanya dan tidak selalu menunjukkan kepada dosa. Imam Raghib
memberitahu kepada kita bahwa kata dhanb makna aslinya adalah
mengambil buntut sesuatu, dan ini diterapkan
kepada setiap perbuatan yang konsekwensinya tidak dipertanggungjawabkan atau tidak baik. Menurut Lane, dhanb artinya dosa, kejahatan, kesalahan.
Ini dikatakan berbeda dengan kata itsmun,
apakah perbuatan itu disengaja atau
dilakukan karena kealpaan, dimana itsmun khususnya dilakukan
secara sengaja (lihat Lane Lexicon yang dikutip secara resmi). Maka nampaklah
kata dhanbun
adalah kata yang luas sekali artinya dan dapat digunakan sebagai dosa
karena kelalaian jiwa, karena kekurangan akibat ketidak sengajaan, dan bahkan
terhadap kekurangan dan ketidak sempurnaan yang bisa mengakibatkan kurang
berkenan, dan penggunaan kata-kata ini di dalam Qur’an Suci, diterapkan kepada
semua naungan ketidak sengajaan, dari kesalahan yang paling mendasar hingga
kepada kecacatan dan ketidak sempurnaan sifat manusia bahkan orang yang sempurna
pun tidak luput darinya, ini sesuai sekali dengan yang dikatakan kamus tadi.
Dalam bahasa Inggris kata sin
(dosa) tidak ada sama dengan kata dhanbun, dan kata fault (khilaf), lebih dekat
kepada arti yang lebih luas.
Seringkali kita diberitahu oleh kaum Kristen yang tak
bertanggungjawab yang selalu kontroversial bahwa Nabi Suci Muhammad menyembah
berhala di waktu kanak-kanaknya dan karenanya beliau disebut seorang yang sesat di dalam
Qur’an. Pernyataan ini tidak sedikit buktinya. Di satu pihak, ada kesaksian
sejarah yang meyakinkan bahwa, sewaktu perjalanan awalnya ke Syria sewaktu
menemani pamannya, beliau mengatakan benci sekali terhadap penyembahan berhala,
maka ketika dua berhala diberi nama di hadapan beliau, beliau berteriak: “Demi
Allah! Saya tak pernah membenci sesuatu sebenci terhadap memberikan sesajen
kepada berhala”. Semasa kanak-kanaknya, banyak sekali cerita lucu yang
berhubungan dengan pamannya, Abu Thalib yang sangat terkesan sekali pada Nabi
karena akhlaknya yang mulia yang terdapat padanya, yang di hari belakangan
bangsanya sendiri semuanya melawan beliau, ketika kaum Quraisy bangkit melawan
beliau seorang diri, dan ini menjadi bukti kuat kebencian beliau terhadap
penyembahan berhala dan segala sesuatu yang menyerupai itu. Abu Thalib
memberitahukan saudaranya ‘Abbas bahwa beliau tak pernah menjumpai Muhammad
berkata dusta, tidak pula pernah melihat beliau mengejek atau membodoh-bodohi
orang (istilah umum mengenai keburukan); tidak pernah pula pergi bersama
anak-anak lainnya untuk bersenang-senang. Bukan saja perilaku yang tak ada
harganya ataupun perbuatan rendah yang tak pernah dijumpai pada diri beliau,
tapi kemuliaan, ketulusan, rasa hormat, jujur dan akhlak mulia lainnya saja yang
bisa dijumpai pada pribadi beliau hingga beliau menerima gelar Al-Amin (Yang paling
amanah) dari kalangan
sebangsanya.
Di mana pun di dalam Qur’an Suci tidak ada pernyataan
atau kata-kata bahwa beliau itu sesat. Di pihak lain, jelas sekali dikatakan:
“Sahabatmu tidaklah sesat, tidak pula menyimpang” (53:2). Kata dall tidak selalu berarti
seseorang itu sesat.
Lane memberitahu kita bahwa ucapan dalla yang kata daall adalah bentuk
nominatif yang artinya dia bingung dan tak
bisa melihat jalan. Dalam arti inilah
yang disampaikan oleh kata dall di dalam
93:7,
sebagaimana teksnya jelas sekali
menunjukkan. Di sana ada satu pernyataan dari tiga:
“Bukankah Ia menemukan engkau seorang
anak yatim, lalu Ia memberi perlindungan? Dan
mendapatkan engkau tidak bisa melihat jalan dan ditunjukkanya? Dan mendapatkan engkau dalam kekurangan dan
Ia mencukupi engkau dari kekurangan
itu?” (93:6-8).
Dan
sehubungan dengan tiga pernyataan tersebut khususnya dan dalam maksud yang sama,
kita dapati tiga perintah:
Terhadap anak yatim kita tidak boleh menindasnya. Dan
bagi orang yang bertanya, kita tidak boleh
mencemoohkannya. Dan terhadap karunia Ilahi kita harus
menyatakannya.
Ini
terlihat jelas bahwa dalam pernyataan pertama, kita mempunyai pernyataan Nabi
Suci sebagai anak yatim, menurut anjuran pertama tadi bahwa terhadap anak yatim
itu kita tidak boleh menindas. Dan pada pernyataan ketiga kita dapati Nabi Suci
dikatakan orang yang kekurangan dan karunia
Ilahi memenuhi kekurangan itu, menurut anjuran ketiga tadi dia harus menyatakan karunia itu kepada
dunia.
Penyajian itu memberi keyakinan bahwa pernyataan yang
kedua dan anjuran yang kedua itu harus juga
berhubungan satu sama lain. Nah anjuran kedua itu jelas sekali. Dikatakan bahwa
seseorang yang memohon sesuatu jangan dicemoohkan, sementara pernyataan kedua
mengatakan bahwa Nabi telah diberi petunjuk setelah mendapatkan pernyataan itu.
Hubungan antara keduanya meyakinkan bahwa pernyataan itu adalah pernyataan
seseorang yang meminta kebenaran agama, sebab konsekwensi dari itu adalah
petunjuk yang benar. Jadi kenyataannya menyebutkan bahwa Nabi Suci, mendapat
orang di sekeliling beliau dalam keadaan jahiliyah, dan beliau sangat berharap
sekali dapat memperbaiki mereka,
namun belum mendapat jalan bagaimana cara untuk mereformasi mereka, dan Tuhan sendirilah yang
memberi petunjuk atau jalan tersebut kepada beliau. Allah mendapati Nabi sedang
mencari-cari jalan, tapi beliau benar-benar belum mendapat jalan dengan usahanya
sendiri, lalu Dia memberi petunjuk kepadanya dengan Cahaya Ilahi. Dan Qur’an
Suci menjelaskan sendiri ketika difirmankan di tempat lain:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepada engkau suatu
Kitab yang membangkitkan ruh dengan perintah
Kami. Engkau tak tahu apakah Kitab itu, dan tak tahu pula
apakah Iman itu; tetapi Kami membuat itu cahaya, yang dengan cahaya
itu Kami memberi petunjuk kepada siapa saja yang
Kami kehendaki di antara hamba-hamba
Kami” (42:52).
0 komentar:
Posting Komentar